Persib Juara Bertahan Kembali Hadapi Liga, Bagaimana GBLA sebagai Rumahnya?

Foto: Adaan 29

Current Report

Persib Juara Bertahan Kembali Hadapi Liga, Bagaimana GBLA sebagai Rumahnya?

Oleh Muhammad Hafizh Firdaus 03 September 2026

Persib Bandung baru saja memastikan diri kembali ke fase grup AFC Champions League Two (ACL Two). Mariano Peralta mencetak gol di menit-menit akhir, Manila Digger disingkirkan, dan Maung Bandung kembali membawa nama Bandung ke panggung Asia.

Masalahnya, pertandingan penting itu tidak dimainkan di rumah sendiri. Persib harus menggunakan Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung. Sebuah stadion yang pernah menjadi kandang Persib sebelum Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) berdiri.

Tiga hari sebelum Super League 2026/2027 dimulai, GBLA masih belum memberikan kesan sebagai stadion yang benar-benar siap menerima Persib pulang. Ironisnya, Persib sebenarnya sudah mendapatkan 'tambahan' waktu.

Rezeki Waktu Tambahan Belum Cukup

Semula, Persib dijadwalkan menghadapi Manila Digger pada 12 Agustus. Saat proses perbaikan rumput GBLA berlangsung, jadwal tersebut menjadi salah satu target penting. Kemudian, AFC menggeser pertandingan ke 31 Agustus.

Secara sederhana, Persib mendapat bonus hampir tiga pekan. Manajemen bahkan sempat menyebut perubahan jadwal tersebut sebagai keuntungan karena rumput mendapatkan waktu lebih panjang untuk tumbuh dan mencapai kondisi yang nyaman digunakan. Tetapi ketika 31 Agustus tiba, Persib tetap bermain di Si Jalak Harupat.

Kini, pertandingan pertama Super League tinggal menghitung hari dan GBLA belum sepenuhnya siap. Pertanyaannya menjadi sederhana, meski jawabannya mungkin tidak sesederhana itu. Sampai kapan?

Bukan Masalah yang Baru Ditemukan Kemarin

Persoalan rumput GBLA sudah menjadi pembicaraan sejak musim-musim sebelumnya. Pattern lapangan yang tidak merata, area rumput yang terlihat bertotol, hingga kontur yang menjadi sorotan membuat perbaikan besar memang sulit dihindari.

Adhitia Putra Herawan pada Juni lalu juga sudah menjelaskan bahwa pekerjaan kali ini tidak bisa sekadar mengganti rumput. Ada media tanam yang harus diperbaiki. Lapisan pasir sekitar 30 sentimeter perlu ditambahkan. Setelah itu, rumput baru ditanam dan membutuhkan waktu untuk tumbuh hingga optimal.

Estimasi waktunya bahkan tidak sebentar, dua hingga empat bulan. Dengan kata lain, semua orang sebenarnya sudah tahu bahwa ini bukan pekerjaan akhir pekan. Karena itu, kondisi GBLA hari ini seharusnya tidak hanya memunculkan pertanyaan tentang rumput. Yang lebih penting adalah soal timeline.

Apakah target awalnya terlalu optimistis? Apakah ada kendala teknis di tengah pengerjaan? Atau pekerjaan memang membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan?

Publik belum mendapatkan gambaran yang cukup jelas.

Vendor X dan Proyek yang Publik Hanya Bisa Lihat Hasilnya

Manajemen Persib pernah menjelaskan bahwa pengerjaan dilakukan oleh pihak ketiga melalui proses tender. Ada beberapa kontraktor yang melakukan survei, mengikuti proses tender, kemudian dipilih satu vendor untuk mengerjakan proyek tersebut.

Namanya belum dipublikasikan. Tidak ada yang salah dengan penggunaan pihak ketiga atau proses tender. Itu justru lazim dalam proyek seperti ini. Namun, ketika pekerjaan menjadi perhatian besar menjelang kompetisi dan target yang sebelumnya disampaikan belum tercapai, wajar jika muncul pertanyaan lanjutan.

Bukan untuk mencari kambing hitam. Bukan juga untuk meminta identitas Vendor X lalu ramai-ramai menyerbu kolom komentarnya. Tetapi, setidaknya publik perlu tahu, sejauh mana proyeknya berjalan dan apa yang sedang dikejar?

SJH Sudah Menyelamatkan, Tetapi Tidak Bisa Menyelamatkan Lagi

Pada pertandingan melawan Manila Digger, Persib masih punya solusi. Si Jalak Harupat siap digunakan.

Kondisinya relatif lebih siap untuk pertandingan internasional. Wajar saja, stadion tersebut sedang dipersiapkan sebagai salah satu venue FIFA ASEAN Cup 2026. Persib tinggal datang dan bermain. Namun, solusi itu sekarang sudah habis masa berlakunya.

Setelah laga 31 Agustus, Si Jalak Harupat memasuki masa sterilisasi dan perawatan. FIFA dan PSSI mulai menyiapkan lapangan untuk agenda turnamen, termasuk pemeliharaan rumput dan persiapan kedatangan peserta.

Persib tidak bisa lagi sekadar berkata, “ya sudah, main di Jalak saja.” Tidak bisa.

Jadi, untuk pertandingan melawan PSM Makassar pada 6 September, pilihan realistis di area Bandung tinggal satu. GBLA.

Tiket Sudah Dijual, Rumahnya Masih Dicari-cari

Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah pertandingan kandang Persib bukan sesuatu yang masih berada dalam tahap wacana.

Tiket sudah dijual. One Season Pass sudah dibuka. Bobotoh sudah membeli akses untuk menyaksikan Persib sepanjang musim. Namun, H-3 pertandingan pembuka, kondisi kandangnya sendiri masih belum benar-benar meyakinkan.

Ini bukan berarti pertandingan tidak bisa digelar. Manajer Persib Umuh Muchtar bahkan telah memastikan Persib akan menggunakan GBLA untuk menjamu PSM. Tetapi, kalimat "GBLA belum 100 persen, tapi kita main di sini" seharusnya tidak menjadi kalimat yang terlalu nyaman untuk didengar menjelang pembukaan liga. Apalagi, setelah semua perjalanan beberapa bulan terakhir.

GBLA diperbaiki. Target diberikan. Jadwal pertandingan mundur. Ada waktu tambahan.

Persib sempat mengungsi. Lalu, akhirnya kembali. Itu karena memang tidak ada lagi tempat mengungsi, bukan karena semuanya sudah sempurna.

Rumput Bukan Satu-satunya yang Perlu Diperhatikan

GBLA sebenarnya memiliki pekerjaan rumah yang lebih panjang daripada sekadar lapangan.

Kursi-kursi tribun mulai terlihat kumuh. Beberapa pagar pembatas terasa ditempatkan tanpa ritme visual yang jelas. Running track di sekeliling lapangan juga belum memberikan kesan yang benar-benar selesai, baik dari bentuk maupun pemanfaatannya. Di area sekitar stadion, ilalang dan sejumlah bagian lingkungan stadion masih menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.

Tidak semua harus selesai minggu ini. Tidak realistis meminta stadion berubah total sebelum Persib menghadapi PSM.

Tetapi, kalau GBLA memang sedang diproyeksikan sebagai rumah Persib untuk jangka panjang, maka perbaikannya juga harus mulai terlihat sebagai proyek yang memiliki arah. Bukan hanya muncul setiap kali rumput kembali menjadi masalah.

Persib Sudah Berlari, GBLA Jangan Sampai Masih Jalan Santai

Ini mungkin inti persoalannya. Di atas lapangan, Persib sedang melaju. Tiga gelar domestik beruntun bukan pencapaian kecil. Persib kembali bermain di Asia. Skuad diperkuat. Ekspektasi meningkat. Bobotoh juga semakin menuntut.

Klub sedang membangun standar baru. Tetapi, ketika standar di lapangan naik, stadion seharusnya ikut bergerak.

GBLA akan menjadi tempat Persib menjamu Melbourne Victory. FC Seoul juga akan datang. The Cong-Viettel pun begitu. Bukan hanya pemain lawan yang masuk ke stadion. Akan ada staf, suporter, jurnalis, kamera, dan perhatian dari luar negeri.

Untuk klub yang baru saja membuktikan diri bisa konsisten berprestasi di Indonesia, tentu agak aneh jika hal yang paling dikhawatirkan menjelang musim baru justru kembali ke rumput kandangnya.

Persib boleh berambisi menjadi klub besar Asia. Itu ambisi yang sah. Prestasinya bahkan mulai memberikan alasan untuk percaya. Tetapi, klub besar juga membutuhkan rumah yang ikut mencerminkan ambisinya.

Tidak Juga Harus Selesai Besok Semalam

Tidak ada tuntutan agar GBLA berubah menjadi stadion baru dalam semalam. Tidak ada juga alasan untuk mengabaikan kompleksitas proyek renovasi stadion. Tetapi, setelah target-target yang disampaikan, tambahan waktu pertandingan, dan kondisi yang masih belum ideal, publik berhak melihat arah yang lebih jelas.

Apa yang selesai tahun ini? Apa yang menjadi target berikutnya? Bagaimana kondisi GBLA diproyeksikan untuk kompetisi Asia? Dan, yang paling sederhana, kapan Persib bisa benar-benar bermain di rumah tanpa harus berharap rumputnya sudah cukup siap?

Pada akhirnya, rumput bisa ditanam kembali. Kursi bisa diganti. Pagar bisa dibenahi. Area stadion bisa dibersihkan. Semuanya mungkin dilakukan. Yang lebih sulit adalah membangun momentum. Saat ini, Persib sedang memiliki momentum.

Tiga kali juara. Kembali ke Asia. Ekspektasi meningkat.

Jangan sampai ketika Persib sedang berlari mengejar level yang lebih tinggi, GBLA justru membuat kita semua harus menoleh ke belakang.

Artikel Lainnya

Baca berita Persib lainnya.