Saya rasa sudah waktunya kita berhenti memperlakukan sebuah pertandingan seolah-olah kedua kesebelasan hendak pergi berperang. Kedua klub telah tumbuh menjadi institusi yang semakin profesional, dan meskipun klub dan suporter merupakan dua entitas yang berbeda, kedewasaan suporter semestinya berjalan seiring dengan arah profesionalisme itu. Kalau meminjam istilah Eko Maung, mungkin inilah waktunya “suporter naik kelas.”
Pertandingan ini tidak perlu lagi dibingkai sebagai pertemuan dua pihak yang datang untuk saling menaklukkan. Perlakukan ia sebagai pertandingan yang elegan. Sebuah pertandingan yang menghidupkan gairah kota, menghidupkan kembali ruang-ruang perjumpaan, mempertemukan ayah dan anak dalam satu cerita, dan pada saat yang sama menggerakkan nadi ekonomi masyarakat di kedua kota. Dari pedagang kecil, transportasi, warung, hingga berbagai usaha yang tumbuh di sekitar pertandingan, sepak bola memiliki kehidupan yang jauh lebih luas daripada 90 menit di lapangan.
Saya rasa inilah saat yang tepat. Kedalaman skuad, kualitas pemain, dan kemampuan dua juru taktik sudah membawa persaingan ini ke tingkat yang berbeda. Tidak lagi semata tentang 'berperang' secara fisik di lapangan, tetapi tentang bagaimana persaingan diterjemahkan menjadi kecerdasan taktis, disiplin, kreativitas, keberanian mengambil keputusan, dan kualitas permainan. Biarkan tensinya tinggi, tetapi martabatnya juga tinggi.
Sebab pada akhirnya, pertandingan besar tidak harus meninggalkan luka untuk dikenang. Ia cukup meninggalkan cerita, gairah, dan kebanggaan yang bisa dibawa pulang oleh siapa saja, tanpa memandang warna, kelas sosial, usia, maupun latar belakang. Itulah mungkin bentuk paling dewasa dari sebuah rivalitas: keras di lapangan, elegan di luar lapangan, dan tetap manusiawi di antara keduanya.