BH on the Peak Round 1: Bandung Hooligans Ubah Bentrokan Menjadi Arena Sportivitas

Foto: Bandung Football Scene

Liputan Event

BH on the Peak Round 1: Bandung Hooligans Ubah Bentrokan Menjadi Arena Sportivitas

Oleh Muhammad Hafizh Firdaus 18 July 2026

Di tengah panjangnya catatan kelam rivalitas suporter sepak bola Indonesia, sekelompok anak muda di Bandung mencoba menawarkan jalan yang berbeda. Alih-alih melampiaskan emosi melalui bentrokan liar di jalanan, mereka memilih menyalurkannya dalam sebuah simulasi pertarungan yang memiliki aturan, disiplin, dan tujuan yang jelas.

Gagasan tersebut tergambar dalam "BH on the Peak Round 1", sebuah agenda tertutup yang digelar oleh komunitas Bandung Hooligans di kawasan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Dilansir dari Bandung Extra Times, di tengah udara pegunungan yang dingin, puluhan peserta saling berhadapan dalam format pertarungan beregu yang dirancang layaknya simulasi taktis, bukan tawuran tanpa kendali.

Berangkat dari Keresahan Akan Kekerasan Suporter

Lahirnya Bandung Hooligans disebut berawal dari kegelisahan terhadap budaya kekerasan yang selama bertahun-tahun melekat pada rivalitas suporter sepak bola di Indonesia. Berbagai insiden yang memakan korban jiwa akibat penggunaan senjata tajam maupun aksi pengeroyokan menjadi latar yang mendorong sejumlah inisiator membangun ruang alternatif bagi para suporter.

Momentum tersebut kemudian berkembang ketika muncul ajakan pertandingan persahabatan dari Brigata Curva Sud (BCS). Dari sana, sejumlah pemuda dari berbagai kelompok suporter di Bandung berkumpul dan membentuk Bandung Hooligans sebagai wadah yang menitikberatkan pada kemampuan fisik, keberanian, serta sportivitas.

Simulasi Taktis, Bukan Tawuran Jalanan

Berbeda dengan bentrokan yang terjadi secara spontan di jalan, setiap sesi dalam "BH on the Peak" disusun dengan mekanisme yang terstruktur. Peserta dibagi ke dalam beberapa format, mulai dari 10 lawan 10 hingga 30 lawan 30. Setiap tim memiliki kapten yang bertugas menyusun strategi, menentukan pemain yang berperan sebagai pendobrak di garis depan maupun penjaga di belakang. Seluruh peserta bertarung menggunakan tangan kosong tanpa membawa senjata. Konsep tersebut diklaim sebagai upaya membangun kedisiplinan, mental, sekaligus mengurangi budaya kekerasan yang selama ini identik dengan konflik antarsuporter.

"Choose Life Without Knives"

Salah satu pesan utama yang terus diangkat dalam kegiatan ini adalah ajakan meninggalkan penggunaan senjata dalam setiap bentuk konflik antarsuporter. Melalui slogan "Choose Life Without Knives, Just Sport and Nothing Else", Bandung Hooligans menekankan bahwa pertarungan hanya berlangsung dalam koridor yang telah disepakati bersama. Setelah sesi selesai, seluruh peserta diwajibkan mengakhiri perseteruan dengan saling berjabat tangan sebagai simbol bahwa tidak ada dendam yang dibawa keluar arena. Semangat tersebut menjadi pembeda dengan praktik kekerasan jalanan yang selama ini kerap berujung pada korban jiwa.

Brotherhools dan Upaya Menyatukan Bobotoh

Selain Bandung Hooligans sebagai ruang bagi para petarung, komunitas ini juga memperkenalkan Brotherhools, sebuah wadah yang dirancang lebih inklusif bagi Bobotoh tanpa memandang asal kelompok maupun wilayah. Brotherhools diharapkan menjadi ruang konsolidasi bagi berbagai elemen suporter agar dapat membangun identitas bersama di luar sekat-sekat komunitas yang selama ini ada. Melalui pendekatan tersebut, mereka ingin menunjukkan bahwa solidaritas antarsuporter dapat dibangun tanpa harus menghilangkan karakter maupun identitas masing-masing kelompok.

Menata Ulang Makna Rivalitas

Bagi Bandung Hooligans, regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan. Latihan fisik, pembinaan disiplin, hingga pembentukan karakter disebut sebagai bekal bagi anggota baru yang akan melanjutkan aktivitas komunitas tersebut. Di sisi lain, munculnya inisiatif seperti "BH on the Peak" juga menghadirkan ruang diskusi baru mengenai bagaimana budaya suporter dapat berkembang. Bagi sebagian orang, pendekatan ini mungkin masih akan memunculkan perdebatan. Namun, di balik kepalan tangan yang saling beradu di atas puncak Gunung Puntang, terdapat satu pesan yang ingin mereka gaungkan: rivalitas tidak harus berakhir dengan nyawa yang melayang.

Artikel Lainnya

Baca berita Persib lainnya.